koding

Selamat Datang di Laman Situs Hindu- Budha Kawasan Sumatera, Madura, dan Kalimantan Republik Indonesia. Selamat Menambah ilmu. Lestarikan Cagar Budaya Kita ! Sadarkan Masyarakat Kita ! UU No. 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya. PERATURAN MENTERI KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA NOMOR:PM.49/UM.001/MKP/2009 TENTANG PEDOMAN PELESTARIAN BENDA CAGAR BUDAYA DAN SITUS.

Senin, 04 Januari 2016

Biaro Pulo - Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatera Utara

Kondisi situs
Biaro Pulo berada di Desa Bahal, Kecamatan Portibi, Kabupaten Padang Lawas Utara, berjarak 5,5 km dari Situs Tanjung Bangun. Secara astronomis terletak pada 1◦ 24’ 42.0” LU dan 99◦ 43’ 20.8” LS, dengan ketinggian 73 meter di atas permukaan laut.  Biaro Pulo dibangun pada bukit buatan yang dikuatkan oleh batu, pemandangan alam di sekitar biaro ini sangat indah. Berdasarkan laporan Schnitger (1937: 29-30) Pulo merupakan biaro yang terbuat dari bata berukuran 4,04 X 8,78 meter, tidak mempunyai ruang, terbentuk dari tiga tingkatan stupa. Pada sisi utara terdapat tangga2 dengan lebar 3 meter,. Pada masing-masing sisi terdapat menara, dan di sisi seberangnya berdiri dua menara dengan konstruksi serupa. Hiasan pada menara berupa untaian mutiara yang keluar dari kepala mulut raksasa; di antaranya terdapat genta-genta, dan pahatan tokoh makhluk kahyangan yang sedang terbang. Di sekeliling stupa terdapat beberapa menara yang lebih kecil yang berukuran sama setinggi 59 cm.  

 
Gambar 1. Kondisi bangunan 
Sumber : Susetyo (2010, p.59)
Pada sudut baratlaut halaman biaro tersebut berdiri satu struktur kecil dari batu alam dengan ukuran panjang 2,55 m, dan lebar 2,55 m. Penggalian di biaro tersebut menemukan 15 lapik stupa dengan bagian yang terbesar memiliki diameter 1 meter (Schnitger 1937: 29). Pada bagian batur biaro di bagian tengah terdapat panil berukuran panjang 88 cm, lebar 16 cm yang dihiasi sulur daun. Panil tersebut bersambung dengan panil relief berukuran panjang 49,5 cm, lebar 38 cm, dan panil relief berukuran 16 X 47,5 cm.  Pada masing-masing sisi dari bagian kaki biaro ditemukan panil-panil berisi relief: Di sisi selatan 5 panil, sisi utara (pipi tangga) 2 panil, di sisi barat dan timur, masing-masing 2 panil relief. Dari 11 relief yang ditemui, 5 di antaranya pada kondisi hampir komplit, satu panil hanya tinggal bagian kepala dan tangan, lima panil hanya potongan-potongan fragmen berupa lengan, kaki, dan betis. Relief yang asalnya dapat diketahui adalah relief manusia berkepala sapi yang dipahatkan di sebelah kiri tangga masuk. Pada sisi bagian timur dipahatkan relief manusia berkepala gajah menari dan seorang lelaki dengan kaki terangkat tinggitinggi. Meskipun figur sapi dan gajah mengingatkan pada tokoh Nandi dan Ganeśa tetapi Pulo bersifat Buddhistik, karena didapatkannya lapik-lapik stupa. Munculnya Buddhist pada dasarnya berasal dari teologi Śiwa, yang menciptakan
dunia dalam tarian bersifat keagamaan (ritual) (Schnitger 1937: 29-30).

Hasil penelitian 
A. Bangunan
Biaro yang tersisa sekarang sebagian besar tertutup tanah, terbuat dari bata, besaran bangunan 2,5 meter² dengan tinggi 75 cm. Pada salah satu bagian yang terbuka yaitu di sisi barat, di antara pelipit atas dan bawah pada kaki biaro terdapat relief pola ceplok bunga (roset). Beberapa bagian bangunan menggunakan batu. Unsur-unsur bangunan yang menggunakan batu ditemui juga di halaman biaro tersebut yaitu lapik, stupa, umpak, kemuncak, dan stambha. Sedangkan relief-relief yang dilaporkan oleh Schnitger, berupa lima relief yang menggambarkan sosok sedang menari, di antaranya digambarkan berkepala binatang (satu berkepala sapi dan satu berkepala gajah) kini disimpan di Museum Nasional, Jakarta. Relief tersebut dipahatkan pada panil batu, menggambarkan manusia berwajah binatang (sapi jantan dan gajah) dan raksasa dalam sikap menari. Gerakan tarian digambarkan secara ekstrem (kaki terbuka lebar, satu kaki diangkat ke atas, badan meliuk-liuk), mungkin menggambarkan tarian dalam ritual keagamaan. Adapun unsur bangunan yang terdapat di halaman Biaro Pulo adalah 44 mercu, 1 stambha, 17 lapik stupa dan 3 umpak. Dari ke-4 jenis tinggalan di halaman Biaro Pulo akan dideskripsi masing-masing 1 jenis yang dianggap mewakili. 

b) Lapik stupa
Lapik stupa dari batu terdapat di halaman Biaro Pulo. Bentuknya bulat terdiri dari tiga tingkat, semakin ke atas semakin mengecil. Diameter bagian paling bawah 96 cm, diameter bagian tengah 58 cm, dan diameter bagian paling atas 41 cm. Di baigian atas terdapat lubang berbentuk lingkaran yang berdiameter 14 cm, dan kedalaman 26 cm. 
 
 
Gambar 2. Lapik stupa 
Sumber : Susetyo (2010, p.60) 
 
c) Fragmen Stambha
Fragmen stambha berbahan batu terdapat di halaman Biaro Pulo. Fragmen Stambha terdiri dari bagian dasar dan badan. Bagian dasar dihias kelopak padma dengan ujung kelopak berada di bawah,  sedangkan bagian badan juga berhias kelopak padma dengan ujung kelopak berada di atas. Ukuran tinggi 49 cm, diameter atas 36 cm, dan diameter bawah 56 cm.  
 
Gambar 3. Fragmen stambha
Sumber : Susetyo (2010, p.61)
 
d) Bagian kemuncak pagar langkan
Bagian kemuncak pagar langkan dari batu terdapat di halaman Biaro Pulo. Berbentuk tiga tingkatan, semakin keatas semakin kecil. Ukuran tinggi 55 cm, bagian bawah 35 X 35 cm; bagian tengah 35 X 35 cm; bagian atas berbentuk persegi panjang 26 X 18 cm. Di antara tingkatan tersebut terdapat antara yang berbentuk menyerupai panil dengan lebar 7 cm.   

 
Gambar 4. Kemuncak 
Sumber : Susetyo (2010, p.61) 

e) Umpak Batu
Umpak dari batu terdapat di halaman Biaro Pulo, berukuran 29 X 29 cm, tinggi 30 cm, terdapat lobang di bagian tengah dengan ukuran 13 X 1 cm, dan kedalaman 9 cm.

Daftar Pustaka :
Soesatyo, S. (2010). Kepurbakalaan padang tinjauan literatur.  Unpublished undergraduate thesis, Universitas  Indonesia, Jakarta.
 

Tidak ada komentar: